
Foto : Istimewa
beritaokuterkini.com – Berdasarkan pemantauan terkini BMKG Sumatera Selatan, sebagian besar wilayah Sumsel bagian timur telah mengalami penurunan curah hujan hingga di bawah 50 mm pada pertengahan Juni 2024. Ini merupakan indicator awal terjadinya musim kemarau. BMKG mendefinisikan awal musim kemarau jika curah hujan dasarian kurang dari 50 mm yang terjadi selama 3 dasarian berturut-turut.
“Kemarau tahun 2024 akan diwarnai oleh fenomena La Nina yang umumnya meningkatkan curah hujan. Karenanya, curah hujan pada musim kemarau 2024 ini akan sedikit lebih tinggi dari biasanya. Hal serupa yang pernah terjadi pada tahun 2020, 2021 dan 2022,” ujar Kepala BPBD OKU, Drs Januar Effendi M I Kom melalui Manager Pusdalops BPBD OKU, Gunalfi pada portal ini. Senin (24/06/2024).
Meski demikian, Lanjut Gunalfi, pada musim kemarau jeda hujan atau hari tanpa hujan (HTH) dapat berkisar 3-10 hari. Hal ini akan meningkatkan potensi kemunculan hotspot yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan.
Selanjutnya, penurunan curah hujan apa musim kemarau akan menurunkan kualitas Udara karena berkurangnya hujan sebagai faktor pencuci Udara.
“Sehubungan dengan Hal tersebut Kirannya Informasi ini dapat dijadikan Kewaspadaan dan Pertimbangan dalam mengambil langkah Mitigasi dampak yang akan timbul akibat Dampak Bencana Hidrometeorologi (Kekeringan Musim Kemarau) tersebut,” ungkapnya.
Selain itu, tambahnya, masyarakat untuk Tidak Melakukan Kegiatan Pembakaran Lahan Saat Musim kemarau berlangsung dan Tetap Waspada terhadap Cuaca Ekstrem yang dapat timbul kapan pun.(***)





